Buscar

Pages

السلام Pictures, Images and Photos

PRASANGKA

Prasangka yang diperturutkan berpotensi mendorong orang untuk mencari-cari kesalahan saudaranya, atau minimal menggunjingkannya. Dan hal ini dapat menjadi awal terputusnya tali persaudaraan.


"Ada sebuah cerita bahwa ada sepasang suami isteri yang dikarunia bayi laki-laki yang sangat tampan, karena sayangnya, cinta kasih suami isteri tersebut tercurah sepenuhnya pada si bayi. hingga suatu ketika, si isteri menitipkan pengasuhan bayi tersebut pada suaminya saat ia hendak pergi mandi. Saat sedang mengasuh bayi kecilnya, datanglah seorang utusan yang meminta bapak itu untuk segera menghadap raja. Dengan segera si bapak bergegas pergi, dan meninggalkan bayinya di tengah rumah. beruntung keluarga ini memiliki tupai cerdik yang dengan setia menunggui sang bayi. Tak lama kemudian muncul seekor ular berbisa yang hendak memangsa si bayi. Maka terjadilah pertempuran sengit antara tupai dengan ular, hingga akhirnya si ular terbunuh dengan leher hampir putus.
Beberapa saat berlalu, bapak itu pulang ke rumah. Ia sangat terkejut melihat sang tupai menerobos dari balik pintu dengan mulut berlumuran darah. Dalam hatinya, timbul prasangka bahwa tupai peliharaannya telah berbuat jahat pada putranya. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu menghujamkan tongkatnya ke kepala tupai. binatang malang itu pun mati seketika dengan kepala hancur.
Namun, tatkala masuk ke dalam rumah, ia mendapati bayinya masih dalam keadaan sehat. Dan disampingnya tergolek bangkai seekor ular berbisa berlumuran darah. Lelaki itu segera sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya: membunuh tupai yang nyata–nyata telah menyelamatkan nyawa anaknya."


Kisah yang diungkapkan Ibn Al-Muqaffa’ dalam Kalilah wa Dimnah (Fabel–Fabel Kehidupan) tersebut menggambarkan bahwa prasangka selalu membawa penyesalan serta akibat yang tidak menyenangkan. Bila sudah berprasangka orang akan “merasa” dan “bertindak” tanpa landasan yang kuat, sehingga apa yang dilakukannya tidak dapat dipertanggung jawabkan. Pantas bila Rasullullah SAW menyamakan prasangka dengan kedustaan. “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta,” demikian bunyi hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah.
Dalam Alquran, Allah SWT dengan tegas melarang hamba-Nya untuk berprasangka buruk (su’udzhan). “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (QS Al Hujuraat 12).

Mengomentari ayat tersebut Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa Allah SWT melarang orang-orang beriman berprasangka buruk (su’udzhan), yaitu melakukan tuduhan dan sangkaan terhadap keluarga, kerabat, ataupun siapa saja yang tidak pada tempatnya, karena hal itu termasuk perbuatan dosa. “Maka jauhilah banyak prasangka itu sebagai sebuah kewaspadaan,” ungkap Ibnu Katsir lebih lanjut.

Abdul Hamid Al-Bilali mengungkapkan bahwa prasangka tidak akan terlepas dari dua kondisi.
Kondisi pertama, untuk sesuatu yang dapat diketahui dan diperkuat dengan dalil dan bukti-bukti. Sangkaan atau dugaan dalam kondisi ini boleh untuk dijadikan hukum. bahkan, sebagian besar hukum-hukum syariah dibentuk atas dasar praduga semacam itu, seperti qiyas, riwayat satu orang, dan dan sebagainya seperti nilai-nilai kebaikan dan undang-undang peradilan.
Kondisi kedua, adalah prasangka atau praduga yang tidak berlandaskan dalil dan bukti-bukti. Kondisi semacam ini tidak lebih dari dugaan kosong belaka, dan tidak layak dijadikan landasan untuk menerapkan hukum. Sebenarnya, prasangka jenis kedua inilah yang tidak dilandaskan pada bukti yang akurat dan korelasi dominan, dan tidak boleh kita lakukan dan wajib hukumnya untuk kita jauhi.

Pertanyaannya, mengapa Allah dan Rasul-Nya melarang kita berprasangka (buruk)? Islam adalah ajaran yang lebih mendahulukan pencegahan dari pada pengobatan. Islam akan bersikap tegas dalam memotong hal-hal yang berpotensi menimbulkan mudharat yang lebih besar. Demikian pula dengan prasangka. Walau tak tampak secara langsung di permukaan, tapi ia berpotensi menggiring manusia pada perbuatan dosa yang lebih besar.
Prasangka yang diperturutkan berpotensi mendorong seseorang untuk mencari-cari kesalahan saudaranya, atau minimal menggunjingkannya. Dan, inilah langkah awal terputusnya hubungan silahturrahmi. Karena Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al–Hujuraat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu mencari-cari kesalahan dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”

Prasangka dapat pula melahirkan sikap munafik. Dalam arti apa yang diucapkan dan dilakukan bertentangan dengan kehendak hati. Lain di bibir lain di hati. Bisa jadi saat berinteraksi dengan orang yang kita sangkai, kita berkata sesuatu padahal hati kita menyangkal atau meragukannya. Prasangka dapat bisa menyebabkan orang berdusta dan mengabaikan amanah khususnya dari orang yang diprasangkai. Padahal, kemunafikan adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah.
Yang tak kalah bahayanya, prasangka bisa membuat hubungan interpersonal menjadi kurang hangat. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan bahwa semua amal dan prilaku diawali oleh persepsi dan cara pandang seseorang.

Prasangka buruk hakikatnya adalah pikiran negatif. Dan, perilaku seseorang sangat ditentukan oleh pikirannya. Karena itu, ketika seseorang berprasangka buruk, maka setiap gerak dan prilakunya akan menampakkan hal yang buruk juga. Termasuk raut muka, gerak tabuh, ucapan, dan tingkah lakunya.
Prasangka timbul akibat tidak lengkapnya informasi yang sampai tentang seseorang. Akibatnya si penerima informasi hanya menduga-duga bahwa orang yang dilihatnya seperti A, B, atau C. Tidak ada kepastian. Karena itu, cara efektif untuk meminimalisasi prasangka adalah dengan menyerap informasi secara lengkap, tidak sepotong-potong. Dalam bahasanya Aa Gym, informasi yang diserap harus memenuhi kriteria BAL (benar, akurat, dan lengkap).
Kedua, prasangka bisa timbul karena pencitraan buruk terhadap seseorang. Karena itu Allah SWT merancang “formula tabayyun” agar umatnya tidak jatuh pada prasangka akibat kedengkian orang-orang fasik. Difirmankan, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujuraat : 6).

Tabayyun dapat diartikan sebagai klarifikasi, uji kebenaran, atau mengecek ulang tentang kebenaran sebuah berita. Sikap kritis itu diperlukan untuk menghindari fitnah yang akhirnya akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari sebagai dampak dari informasi yang salah.
Ketiga, prasangka timbul dan akan tumbuh subur dalam hati yang kotor. Maka, langkah paling mendasar untuk meminimalisasi lahirnya prasangka adalah dengan menjaga kesucian hati. Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Quran mengungkapkan bahwa putihnya hati yang tidak tercoreng prasangka buruk akan membebaskan manusia dari kegamangan dan keraguan; juga melahirkan ketenangan yang tidak tercemari kekhawatiran. “Alangkah indah kehidupan yang terbebas dari prasangka dan praduga kosong!,” demikian ungkapnya.
Melihat fenomena kita di Indonesia sekarang ini sangatlah banyak hal-hal yang negatip muncul akibat prasangka tadi, contohnya saudara sekandung bisa saling bunuh, orang tua dan anak demikian juga, bahkan antara sesama teman juga terjadi demikian. Dan memang dampak dari sifat ini sangatlah merugikan. Marilah kita introspeksi diri kita agar jangan sampai jatuh dalam sifat jelek tersebut. ?


sumber : http://muhamadfikri.wordpress.com/2009/07/30/prasangka/

Natal??



Sebuah diskusi menarik seputar polemik selamat natal
bagi pembaca yang berakal hendaknya membaca terlebih dahulu dengan lengkap baru kemudian berkomentar



A : "Kamu koq mengucapkan Selamat hari Natal kepada non muslim? padahal kamu kan muslim?"



B : "Saya ingin berbuat baik kepada mereka. Apalagi mereka bukan kafir harbi (kafir yang memerangi). Bukankah Allah Ta'ala berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…” [QS. Al-Mumtahanah: 8].



A : "Kamu telah salah dalam mengambil dalil. Firman Allah tersebut mengenai berbuat baik seperti memberi makan atau menyantuni Non Muslim atau bergaul dengan orang tua yang Non Muslim. Bukan untuk berbuat dosa seperti Syirik dengan mengucapkan Selamat Natal kepada mereka yang merayakan kelahiran Tuhan mereka. Apakah kamu tahu asbabul nuzul ayat tersebut? Sebab turunnya ayat Al Qur’an di atas adalah sebagai berikut: Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut: Asma’ mengatakan, “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama.” [QS. Al Mumtahanah [60] : 8]”


B : "Dulu mereka (kaum nasrani) telah mengucapkan selamat kepada saya ketika hari raya Idul Fitri. Nah, ketika hari raya mereka, maka saya membalas kebaikan mereka dengan mengucapkan Selamat hari Natal. Ada dalilnya tentang hal ini. Allah Ta'ala berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86).



A : "2x kamu salah dalam mengambil dalil. Sesungguhnya firman Allah tersebut menyangkut dengan ucapan salam: “Assalamu’alaikum”. Bukan ucapan Selamat Natal yang mengandung kemusyrikan. Itu pun ucapan salam di atas berlaku jika pemberinya adalah sesama Muslim, Bukan non Muslim. Jika yang memberi salam Non Muslim, kita cukup menjawab “Wa ‘alaikum”. Sebab kita tidak boleh mendoakan Non Muslim dengan semoga Allah memberimu Keselamatan, Rahmat, dan Keberkahan sementara mereka tidak mau beriman kepada Allah. Hadits riwayat Anas bin Malik: Rasulullah bersabda: 'Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah: Wa`alaikum.' (Shahih Muslim No.4024).



B : "Ah...ini kan masalah sepele, gak usah terlalu dibesar-besarkan. Nanti bisa terjadi perpecahan antar umat beragama."



A : "Menurut kamu mungkin kecil atau sepele. Tapi bisa jadi di sisi Allah ucapan itu sangat besar akibatnya. Allah Ta'ala berfirman: “Mereka berkata: 'Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.' Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh” [Maryam 88-90]. Bukankah ucapan selamat itu mendukung pemahaman mereka yang menyakini bahwa Allah memiliki anak?



B : "Tapi bukankah ada ulama dan kyai yang membolehkan seorang muslim mengucapkan Selamat Natal kepada non muslim?"



A : "Kita tidak boleh taqlid buta kepada ulama. Jika ulama itu telah keliru, maka jangan diikuti. Seandainya mengucapkan Selamat Natal itu baik, niscaya Nabi dan para sahabat2nya serta para Imam Ahlus Sunnah telah melakukannya, sedangkan mereka hidup di tengah orang2 non muslim."


B : "Sesungguhnya saya hanya sebatas mengucapkan selamat saja, sedangkan hati saya mengingkari keyakinan mereka. Agar mereka tidak membenci kita, bahkan akan mencintai kita."



A : "Kalau begitu, bagaimana menurut kamu jika ada orang yang memberikan ucapan selamat kepada orang yang berhasil melakukan korupsi? Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil berzina? Atau mengucapkan selamat kepada maling yang telah berhasil mencuri? Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil membunuh orang yang tidak berdosa? Apakah hal itu dibolehkan menurut kamu?"



B : "Ya jelas tidak boleh. Karena itu sama saja mendukung perbuatan mereka dalam maksiat dan dosa."



A : "Kalau itu tidak dibolehkan menurut kamu, berarti memberikan ucapan selamat Natal lebih tidak dibolehkan lagi, karena hukumnya jauh lebih besar dari ucapan2 selamat diatas. Perbuatan korupsi, zina, mencuri dan membunuh hanya sebatas dosa maksiat. Adapun merayakan hari Natal adalah termasuk dosa kesyirikan. Sedangkan dosa kesyirikan jauh lebih besar daripada dosa kemaksiatan."


B : (o_0) ... (melotot)

Semoga Bermanfaat :)



Wahai Ikhwan

Wahai Ikhwan,
Yang masih memiliki hati
Dengarlah jeritan hati kami
Sudahi merayu kami
Hentikan menebar simpati.

Kami hanyalah akhwat
Yang ingin menggapai cinta Ilahi
Yang mempunyai iman setipis ari
Menghadapi sikapmu yang tak terkendali
Terkadang kami tak cukup kuat.

Wahai Ikhwan,
Yang masih mempunyai nurani
Dengarlah suara hati kami
Jangan rintangi dakwah kami
Jangan matikan komitmen kami
Jangan serang kami dengan komentar basi.

Kami hanyalah akhwat biasa
Yang sedang mencari jati diri sejati
Yang tak sekuat iman istri para Nabi
Kami risih dengan candamu yang menjadi-jadi

Wahai Ikhwan,
Yang mempunyai lubuk hati
Dengarlah keluhan jiwa kami
Jangan goda kami dengan ta’aruf islami
Jika hanya sekedar mencari sensasi
Hati kami bukanlah kelinci semurah kue serabi
Kami akhwat yang menjunjung amanah Ilahi
Mengemban dakwah dalam naungan visi dan misi

Wahai Ikhwan,
Yang memiliki belas asih
Dengarlah pinta kami
Hargai hijab lebar kami
Bantulah kami kokohkan harga diri
Jangan lucuti semangat kami
Jangan runtuhkan ketegaran kami

Tolong kami,
Wahai para ikhwan
Jika kalian masih mempunyai hati nurani.

Sumber : http://tehirma.blogspot.com

Ketika Akhwat Berkata Cinta

Ketika aku jatuh cinta pada seorang anak adam..

Aku merenung..

Ya Allah, kenapa ketika aku sendiri yang ku bayangkan dia, bukan Engkau?

Kenapa aku berusaha mencuri perhatiannya, sedangkan perhatian padaMu lebih aku butuhkan..

Kenapa aku cemburu saat dia bersama dengan yang lain, sedangkan Kau lebih tahu jodoh dia yang sebenarnya..

Kenapa aku senang melihatnya, sedangkan Engkau menciptakan mata ini bukan untuk bebas memandang lelaki ajnabi..

Ya Allah, ampunilah aku, yang belum bisa menjaga wajah dan hatiku, mata dan perasaanku..

Ya Allah, seadainya saja saat kesendirian ku curahkan semua padamu, berzikir atas cintaMu yang begitu besar, menyesali akan semua dosa dan maksiat yang ku lakukan, pasti hati dan jiwa ini akan lebih tenang..

Daripada aku harus mengenang dia, ikhwan yang bukan mahramku, yang tidak halal dan belum tentu bisa 
halal bagiku, yang akan membawaku pada zina hati dan mata, padahal Engkau sungguh melaknatnya..

Ya Allah, aku menyesal..

Engkau yang bisa memahami isi hatiku, bukan dia..

Engkau yang selalu menjagaku siang dan malam, bukan dia..

Engkau yang memberikan rezki padaku,bukan dia..

Engkau Yang Maha Mendengar doa dari para hambanya, termasuk aku, bukannya dia!

Ya Allah, ampuni kesalahtafsiran tentang rasa cinta yang Kau berikan padaku..

Cinta padaMu lah, cinta yang hakiki, dan paling suci…

Cinta yang memberi hikmah, cinta yang memberi derajat..